Selasa, 13 Januari 2009
Surat dari anak mu
Mama Tersayang,Saat ini aku ada di surga, duduk di pangkuan Tuhan. Tuhan sangatlah mengasihikudan Ia turut menangis bersamaku. Ia menangisi hatiku yang telah dihancurkan.
Sebelumnya aku amat diinginkan untuk menjadi seorang gadis kecil.Aku tak begitu mengerti tentang apa yang telah terjadi. Aku dulu begitu senangsaat aku mulai menyadari keberadaanku. Aku ada di dalam tempat yang gelapnamun nyaman. Kupandangi jari tangan dan kakiku. Alangkah cantik diriku dalammasa perkembanganku, walaupun belum dekat masanya sampai tibanya saat akutelah siap meninggalkan lingkunganku itu.
Aku habiskan sebagian besar waktuku dengan tidur ataupun berfikir. Bahkanpada hari-hari terawal hidupku, aku merasakan hubungan istimewa antara akudan Mama.
Kadang aku mendengar Mama menangis. Kadang-kadang Mama berteriak ataumenjerit, lalu menangis. Kudengar Papa balik berteriak, aku merasa sedih danberharap bahwa Mama akan segera pulih. Aku berfikir, kenapa kiranya Mamasering menangis. Pernah hampir seharian Mama menangis. Aku turut sedih. Takdapat kubayangkan kenapa Mama sesedih itu.
Pada hari yang sama, sesuatu yang mengerikan terjadi. Monster yang amatmengerikan memasuki tempat yang hangat dan menyenangkan tempat akuberada. Aku amat takut dan mulai berteriak, namun tak sekalipun engkaumencoba menolongku. Mungkin engkau tak pernah mendengarku.
Monster itu dekat dan lebih dekat lagi, sedang aku berteriak dan berteriaklagi, "Mama, Mama ... tolonglah aku; Mama, tolong aku". Lengkaplah teroryang kualami. Aku berteriak dan berteriak hingga kupikir aku tak mampulagi melakukannya. Lalu monster itu mengoyakkan lenganku. Amat sakitrasanya, nyerinya tak dapat kuterangkan. Teror itu tak berhenti. Oh,betapa aku memohon kepadanya untuk berhenti. Aku berteriak ngeri saatmonster itu mengoyak lepas tungkaiku.
Walaupun aku telah mengalami teror seperti itu, aku masih sekarat.Kutahu aku takkan pernah memandang wajah Mama, atau mendengarMama berkata kepadaku betapa Mama menyayangiku. Aku inginmelenyapkan semua air mata Mama. Kubuat banyak rencana untuk membuatMama bahagia. Aku tak bisa; seluruh mimpiku telah buyar. Walau aku beradadalam nyeri dan kengerian yang hebat, di atas semuanya aku merasakannyerinya hatiku yang hancur. Aku tak mengharapkan sesuatu selain menjadianak Mama.
Tak ada gunanya lagi kini, aku telah mengalami kematian yang menyakitkan. Akuhanya dapat membayangkan hal-hal buruk yang telah mereka buat terhadap diriMama. Aku ingin memberitahu Mama sebelum aku pergi bahwa aku mencintai Mama,namun aku tak tahu kata-kata apa yang Mama dapat mengerti. Dan segerasesudahnya, aku tak lagi memiliki nafas untuk mengucapkannya; aku mati.
Aku merasakan kebangkitan diriku. Aku dihantar oleh malaikat memasukitempat besar yang indah. Aku masih menangis, namun sakit fisik kini telahlenyap. Malaikat itu membawaku kepada Tuhan, lalu meletakkanku dipangkuanNya. Ia berkata bahwa Ia mencintaiku, dan bahwa Ia adalah Bapaku.Maka aku gembira. Aku menanyakan apakah kiranya yang telah membunuhku.Ia menjawab, "Aborsi. Aku menyesal, anakKu; sebab Aku tahu bagaimanarasanya." Aku tak tahu apa itu aborsi; kupikir itu adalah nama dari monstertadi.
Aku menulis untuk mengatakan aku mencintai Mama dan untuk memberitahuMama betapa inginnya aku menjadi gadis kecil Mama. Aku telah berjuang kerasuntuk hidup. Aku ingin hidup. Aku punya kemauan itu, tapi aku tak sanggup;monster itu terlampau kuat. Monster itu telah menyedot lepas lengan dantungkaiku, kemudian seluruh diriku. Tak mungkin untuk hidup. Aku ingin Mamatahu bahwa aku telah berjuang untuk tetap tinggal bersama Mama. Aku takingin mati.
Mama, tolong awasi pula si monster aborsi. Mama, aku sayang Mama. Dan akujuga tak suka Mama mengalami nyeri seperti yang telah kualami.Tolong hati-hati.
Dengan Cinta,Bayi Perempuanmu
Sebelumnya aku amat diinginkan untuk menjadi seorang gadis kecil.Aku tak begitu mengerti tentang apa yang telah terjadi. Aku dulu begitu senangsaat aku mulai menyadari keberadaanku. Aku ada di dalam tempat yang gelapnamun nyaman. Kupandangi jari tangan dan kakiku. Alangkah cantik diriku dalammasa perkembanganku, walaupun belum dekat masanya sampai tibanya saat akutelah siap meninggalkan lingkunganku itu.
Aku habiskan sebagian besar waktuku dengan tidur ataupun berfikir. Bahkanpada hari-hari terawal hidupku, aku merasakan hubungan istimewa antara akudan Mama.
Kadang aku mendengar Mama menangis. Kadang-kadang Mama berteriak ataumenjerit, lalu menangis. Kudengar Papa balik berteriak, aku merasa sedih danberharap bahwa Mama akan segera pulih. Aku berfikir, kenapa kiranya Mamasering menangis. Pernah hampir seharian Mama menangis. Aku turut sedih. Takdapat kubayangkan kenapa Mama sesedih itu.
Pada hari yang sama, sesuatu yang mengerikan terjadi. Monster yang amatmengerikan memasuki tempat yang hangat dan menyenangkan tempat akuberada. Aku amat takut dan mulai berteriak, namun tak sekalipun engkaumencoba menolongku. Mungkin engkau tak pernah mendengarku.
Monster itu dekat dan lebih dekat lagi, sedang aku berteriak dan berteriaklagi, "Mama, Mama ... tolonglah aku; Mama, tolong aku". Lengkaplah teroryang kualami. Aku berteriak dan berteriak hingga kupikir aku tak mampulagi melakukannya. Lalu monster itu mengoyakkan lenganku. Amat sakitrasanya, nyerinya tak dapat kuterangkan. Teror itu tak berhenti. Oh,betapa aku memohon kepadanya untuk berhenti. Aku berteriak ngeri saatmonster itu mengoyak lepas tungkaiku.
Walaupun aku telah mengalami teror seperti itu, aku masih sekarat.Kutahu aku takkan pernah memandang wajah Mama, atau mendengarMama berkata kepadaku betapa Mama menyayangiku. Aku inginmelenyapkan semua air mata Mama. Kubuat banyak rencana untuk membuatMama bahagia. Aku tak bisa; seluruh mimpiku telah buyar. Walau aku beradadalam nyeri dan kengerian yang hebat, di atas semuanya aku merasakannyerinya hatiku yang hancur. Aku tak mengharapkan sesuatu selain menjadianak Mama.
Tak ada gunanya lagi kini, aku telah mengalami kematian yang menyakitkan. Akuhanya dapat membayangkan hal-hal buruk yang telah mereka buat terhadap diriMama. Aku ingin memberitahu Mama sebelum aku pergi bahwa aku mencintai Mama,namun aku tak tahu kata-kata apa yang Mama dapat mengerti. Dan segerasesudahnya, aku tak lagi memiliki nafas untuk mengucapkannya; aku mati.
Aku merasakan kebangkitan diriku. Aku dihantar oleh malaikat memasukitempat besar yang indah. Aku masih menangis, namun sakit fisik kini telahlenyap. Malaikat itu membawaku kepada Tuhan, lalu meletakkanku dipangkuanNya. Ia berkata bahwa Ia mencintaiku, dan bahwa Ia adalah Bapaku.Maka aku gembira. Aku menanyakan apakah kiranya yang telah membunuhku.Ia menjawab, "Aborsi. Aku menyesal, anakKu; sebab Aku tahu bagaimanarasanya." Aku tak tahu apa itu aborsi; kupikir itu adalah nama dari monstertadi.
Aku menulis untuk mengatakan aku mencintai Mama dan untuk memberitahuMama betapa inginnya aku menjadi gadis kecil Mama. Aku telah berjuang kerasuntuk hidup. Aku ingin hidup. Aku punya kemauan itu, tapi aku tak sanggup;monster itu terlampau kuat. Monster itu telah menyedot lepas lengan dantungkaiku, kemudian seluruh diriku. Tak mungkin untuk hidup. Aku ingin Mamatahu bahwa aku telah berjuang untuk tetap tinggal bersama Mama. Aku takingin mati.
Mama, tolong awasi pula si monster aborsi. Mama, aku sayang Mama. Dan akujuga tak suka Mama mengalami nyeri seperti yang telah kualami.Tolong hati-hati.
Dengan Cinta,Bayi Perempuanmu
Label: Artikel Bebas
Berlangganan Postingan [Atom]
Posting Komentar